Investasi emas atau saham atau reksadana atau properti

Update : Artikel ini saya tulis pertama kali tahun 2012 jadi rasanya sudah cukup jadoel. Tapi setiap tahun di kelas training saya selalu melakukan updating terhadap data ini sehingga dapat menjadi data yang up to date dalam mengambil keputusan untuk anda melalukan investasi.

Data investasi emas atau saham atau reksadana atau properti tahun 2012 – 2015 :

investasi emas, reksadanda, properti 2013

Kalau melihat data keseluruhan dari tahun 2012 hingga tahun 2015 maka kesimpulan kita sangat sederhana yaitu mau investasi apa saja semuanya cenderung menurun cukup signifikan kecuali properti saja yang penurunannya masih relatif sedikit. Dari data inilah saat ini para perencana keuangan juga sudah mulai menurunkan target investasinya. Dulu untuk reksadana saham masih cukup optimis di angka 25% sekarang hanya ditargetkan 20% untuk investasi jangka panjang di atas 10 tahun.

Data investasi emas atau saham atau reksadana atau properti tahun 2015 :

investasi emas atau saham 2012 - 2015

Data investasi emas atau saham atau reksadana atau properti tahun 2014 :

investasi emas atau saham 2014

Data investasi emas atau saham atau reksadana atau properti tahun 2013 :

investasi emas atau saham 2013


Artikel tahun 2012 :

Menabung pangkal kaya itulah sebuah kata bijak yang sering kita dengar sejak masih kecil. Apakah kata bijak itu masih berlaku saat ini ? Bagi saya menabung itu adalah sebuah kebiasaan yang sangat bagus bahkan sudah harus ditanamkan kepada setiap orang mulai dari kecil. Tetapi saat ini kebiasaan menabung tanpa dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih dapat menjadi buruk akibatnya. Mari kita buktikan !

Berdasarkan statistik dari Bank Indonesia didapatkan data bahwa inflasi di Indonesia rata-rata sebesar 7-8% per tahun dalam 10 tahun terakhir. Artinya setiap tahun semua barang di Indonesia mengalami kenaikan harga sekitar 7-8%. Lalu bagaimana dengan besar pertumbuhan tabungan anda ? Kalau anda tempatkan di celengan sudah dapat dipastikan pertumbuhannya 0%, kalau di tabung di bank sekitar 2-4% dan kalau didepositokan sekitar 4-6% per tahun. Apa artinya ? Tabungan yang kita kenal selama ini (celengan, tabungan dan deposito) kalah cepat dengan kenaikan harga (inflasi) setiap tahunnya. Jadi kesimpulan sederhana kalau menabungnya dengan metoda lama atau konvensional di atas maka anda tidak akan menjadi tambah kaya tetapi malah akan menjadi semakin miskin.

Lalu muncullah istilah investasi yang mulai terasa gaungnya beberapa tahun terakhir. Investasi secara sederhana dapat dikatakan sebagai menabung yang lebih pintar dengan tujuan utama mengalahkan laju inflasi. Bagi kebanyakan orang investasi dilakukan untuk mencapai tujuan finansial yang bersifat jangka panjang. Instrumen investasi yang paling dikenal masyarakat adalah emas, perak, properti, saham dan reksadana.

Setiap instrumen investasi memiliki mekanisme dan risiko yang beragam. Artikel ini akan membahas berapa pertumbuhan dari masing-masing instrumen investasi tersebut di atas selama 10 tahun terakhir sehingga anda memiliki gambaran yang lebih luas dan jauh sebelum memutuskan untuk melakukan investasi.

Semua perhitungan menggunakan rumus kinerja disetahunkan dengan menggunakan metode compounding/majemuk. Data emas diambil dari kitco, saham dari aplikasi IPOT, reksadana dari schroder dan properti dari regensi melati mas serpong.

Inilah kinerja dari setiap instrumen investasi tersebut : 

Nah kalau dilihat dari tabel di atas untuk semua instrumen investasi dengan jangka waktu 10 tahun ternyata memiliki pertumbuhan yang jauh lebih besar dari inflasi yang terjadi. Investasi yang berhubungan dengan saham memiliki pertumbuhan paling tinggi dan emas serta properti memiliki pertumbuhan yang lebih rendah.

Investasi emas atau logam mulia emas dapat dikatakan investasi yang paling abadi apalagi 1-2 tahun terakhir sangat diminati karena mengalami kenaikan harga yang relatif fantastis. Menurut ahli ekonomi investasi emas memang agak sedikit kontroversial karena dianggap hanya menguntungkan diri sendiri dan tidak memberikan manfaat kepada banyak pihak. Misalkan anda mempunyai uang 10 juta maka anda akan mendapatkan sekitar 20 gram logam mulia emas dan selama anda simpan logam mulia tersebut maka uang anda dianggap ‘mati’ karena tidak menghasilkan nilai ekonomis bagi banyak pihak.

Investasi saham memiliki pertumbuhan yang paling fantastis tetapi tentu ini tidak berlaku untuk semua saham, dalam contoh di atas hanya ditampilkan 2 perusahaan yaitu Bank BCA dan Astra International yang paling dikenal masyarakat dan dipercaya memiliki aspek fundamental yang bagus dan sehat yang memiliki pertumbuhan di atas 30% per tahun. Untuk saham bila diambil rata-rata keseluruhan atau dikenal dengan Index Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki pertumbuhan sekitar 26% per tahun.

Investasi reksadana saham memiliki kemiripan dengan saham dimana salah satu reksadana saham dari Schroder mampu mencatat pertumbuhan di atas 30% per tahun. Kelebihan dari investasi di reksadana sebenarnya modal investasi yang diperlukan paling kecil di antara semua jenis investasi lainnya bahkan beberapa jenis reksadana saham dapat dimulai dari angka 100 ribu per bulan.

Investasi properti di daerah serpong tergolong fantastis dan berhubung saya tinggal di Regensi Melati Mas maka saya memahami cukup detail perkembangan rumah di sini. Dulu sekitar tahun 2003 ketika membeli rumah pertama kali dengan tipe 90 harganya sekitar 105 juta dan saat ini di Oktober 2012 harga rumah dengan ukuran yang sama mencapai 581 juta.

Nah sekarang mana yang paling cocok dengan anda dan menjadi pilihan anda ? Ingat prinsip investasi yaitu high return high risk dan oleh karena itu maka pengetahuan anda tentang masing-masing instrumen investasi menjadi modal yang paling penting selain modal uang yang anda miliki untuk investasi tersebut.

Salam Cerdas Finansial,

Andreas Hartono, CFP
Mindset & Financial Motivator

Untuk inhouse training Karyawan Produktif itu Cerdas Finansial silakan hubungi INSAN people academy di 021.290.22.551 atau langsung hubungi Andreas Hartono di 0811.128.338

Andreas Hartono adalah seorang Mindset & Financial Motivator dan penulis 2 buah buku perencanaan keuangan “Nasibmu di Dompetmu” dan “Secangkir Cerdas Finansial”. Andreas Hartono telah memberikan training kepada ratusan perusahaan dengan puluhan ribu alumni.

11 COMMENTS

    • Hai Pak Didimus Daby untuk masalah properti saya bukan ahlinya sehingga mohon maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan Bapak. Terima kasih.

  1. Selamat Pagi Pak Andreas, ada beberapa jenis investasi reksadana ditawarkan dengan murah (minimal 100 ribu rupiah). Pertanyaan saya, apakah itu rutin harus dibayarkan (per bulan) atau hanya 1 kali pembayaran. Untuk reksadana apakah modelnya seperti deposito, yang setelah kita invest lalu dibiarkan saja sampai jatuh tempo atau kita harus aktif jual – beli. Mohon pencerahannya. Terimakasih

    • Reksadana ataupun saham itu secara sederhana sama seperti kita investasi emas. Kapan saja mau beli bisa kemudian kapan saja mau jual juga bisa. Berapa banyak yang mau dibeli juga terserah kita tergantung pada dana yang kita miliki. Yang membedakan hanya fisik wujudnya saja, kalau emas ada bentuk fisiknya yang bisa dipegang dan dipakai sedangkan reksadana atau saham tidak berwujud paling hanya kertas saja tetapi semua yang kita beli tersimpan dalam database tempat dimana kita membeli produk tersebut.

    • Untuk LM bisa beli di banyak tempat koq. Bisa ke Pegadaian atau Antam atau toko emas. Kalau Antam rasanya akan jauh lebih repot ya so better beli saja di toko emas atau di pegadaian.

Leave a Reply