Membeli unit link, salahkah ? Banyak para perencana keuangan yang tidak setuju dengan unit link bahkan kalau diperdebatkan bisa sangat panjang lebar dan kusut seperti pilkada DKI saat ini. Banyak peserta training yang mengatakan bahwa mereka telah membeli unit link, salahkah ? Apakah mereka harus menutup unit link yang mereka miliki ?

Saya cenderung sangat berhati-hati dalam menjawab pertanyaan masalah unit link ini karena saya bisa memahami cara berpikir para perencana keuangan yang kontra dengan unit link dan juga bisa memahami para praktisi unit link. Rasanya akan jauh lebih indah kalau kita tahu terlebih dahulu apa itu unit link sehingga kita bisa memutuskan apakah kita salah beli atau tidak.

Asuransi yang paling awal dikenal dengan istilah asuransi term life atau asuransi jiwa berjangka kemudian berkembang menjadi asuransi jiwa seumur hidup kemudian berkembang lagi menjadi asuransi jiwa endowment dan terakhir berkembang menjadi asuransi jiwa unit link.

Kalau melihat sejarah asuransi, kita harusnya memahami bahwa unit link itu sebenarnya adalah produk asuransi jiwa generasi yang paling baru. Untuk semakin menguatkan coba lihat nama perusahaan yang menjual unit link di Indonesia pasti kemungkinan besar ada kata life sebagai nama perusahaannya yang menandakan itu adalah perusahaan asuransi jiwa.

Membeli unit link, salahkahUnit link itu diciptakan untuk menjawab kebutuhan akan asuransi dan jaminan finansial di masa depan. Nah kalau ada kata jaminan masa depan maka di sinilah muncul aspek investasinya dalam sebuah produk unit link. Jadi secara sederhana unit link adalah sebuah asuransi yang dikombinasikan dengan unsur investasi sehingga seseorang mendapatkan sejumlah uang di masa mendatang. Meskipun ada unsur investasi unit link tidak pernah menjamin berapa hasil investasi yang akan didapatkan oleh seorang nasabah di masa mendatang. Berbeda dengan asuransi jiwa endowment yang memberikan nilai pasti di masa mendatang meskipun hasil yang akan didapatkan tergolong kecil sekali.

Sampai pada titik ini maka saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada anda yang memiliki unit link yaitu anda membeli unit link ini sebenarnya tujuannya buat apa ? Jika anda mengatakan bahwa anda membeli unit link untuk tujuan proteksi maka ada kemungkinan besar anda benar. Mengapa benar ? Karena unit link itu produk dasarnya adalah asuransi sehingga kalau anda membeli unit link untuk tujuan asuransi maka sudah cocok terlepas apakah uang pertanggungan yang anda beli sudah memadai atau belum.

Bagaimana kalau tujuan membeli unit link untuk tujuan investasi ? Nah kalau ini sangat rumit untuk menjawabnya karena sangat tergantung bagaimana komposisi seorang agen asuransi unit link menempatkan premi yang anda bayarkan setiap bulannya. Karena rumit inilah maka banyak perencana keuangan tidak menyarankan seseorang untuk berinvestasi melalui instrumen unit link.

Lalu hasil investasi yang ada dalam unit link digunakan untuk apa ? Digunakan saja untuk membayar premi asuransi anda ketika anda cuti premi. Biasanya asuransi unit link dibuat oleh agen dengan masa bayar selama 10 tahun setelah 10 tahun disebut dengan masa cuti premi alias tidak bayar premi lagi. Tetapi tidak bayar ini bukan gratis tetapi tetap bayar dengan cara memotong hasil investasi yang sudah didapatkan selama 10 tahun terakhir.

Jadi apakah membeli unit link, salahkah ? Tergantung tujuan anda membeli unit link selama anda fokus pada aspek asuransinya maka unit link dapat menjadi sebuah pilihan yang baik tetapi ketika unit link dijadikan sebagai instrumen investasi maka akan terjadi banyak kerumitan yang bisa saja membuat sebuah investasi menjadi salah tempat dan bahkan tidak optimal.

Bagaimana asuransi anda saat ini ? Silakan konsultasikan dengan saya melalui WA di 0811.128.338 dan saya akan membantu anda untuk memastikan polis yang anda miliki sudah tepat.

Salam Cerdas Finansial,

Andreas Hartono, CFP

Untuk kebutuhan in-house training “karyawan produktif itu Cerdas Finansial” silakan hubungi Andreas-Hartono Academy di 0811.128.338.

Andreas Hartono adalah seorang Mindset & Financial Motivator dan penulis 2 buah buku perencanaan keuangan "Nasibmu di Dompetmu" dan "Secangkir Cerdas Finansial". Andreas Hartono telah memberikan training kepada ratusan perusahaan dengan puluhan ribu alumni.

2 COMMENTS

Leave a Reply