Strategi Investasi Reksadana Buy & Sell, Buy & Sell dan Buy & Switch

Strategi investasi reksadana itu ibarat bermain layangan, kadang kita perlu ulur dan kadang kita perlu tarik sesuai dengan situasi yang terjadi.

Situasi ekonomi saat ini kian tidak menentu, kalau sebelumnya kita mengenal istilah resesi 10 tahunan, 7 tahunan dan 5 tahunan maka sekarang bisa saja terjadi setiap saat. Kondisi perekonomian Eropa, Amerika dan China menjadi salah satu faktor semakin tidak jelasnya ekonomi di dalam negeri.

Lihat saja tahun ini pertumbuhan saham kita rontok padahal secara fundamental ekonomi Indonesia terkategori baik. Banyak yang berharap tahun ini indeks akan mendekati angka 6000 eh ternyata malah kembali ke level 4500.

Apa dampaknya ? Uang yang kita investasikan pun menjadi terombang ambing dan secara statitik menunjukkan rata-rata return pertumbuhan investasi saham dan reksadana semakin menurun (bisa baca pertumbuhan produk investasi). Sekitar 3-5 tahun lalu sebagian besar perencanaan keuangan cukup optimis untuk memberikan asumsi pertumbuhan reksadana saham rata-rata bisa mencapai 25% dalam kurun waktu investasi 10 tahunan. Tetapi saat ini asumsi itu sepertinya perlu direview kembali, saya pribadi mulai menurunkan asumsi return investasi reksadana menjadi 20% untuk investasi dalam kurun waktu 10 tahunan.

Ketika return menjadi lebih kecil maka hasil investasi pun menjadi lebih kecil atau untuk mendapatkan nilai tertentu di masa mendatang diperlukan dana investasi bulanan yang lebih besar. Untuk menambah nilai investasi setiap bulan bukanlah perkara yang mudah karena tuntutan biaya hidup tiap tahun juga semakin meningkat seiring tingginya inflasi.

Strategi investasi reksadana 2

Oke, lalu bagaimana baiknya ? Apa yang kita bisa lakukan ? Ini ada sedikit informasi untuk anda yaitu strategi investasi reksadana yang saya sebut dengan istilah buy & switch.

Artikel Rekomendasi :  Membeli Reksadana Di Bank ?

Dalam dunia investasi dikenal dengan 2 konsep yaitu buy & sell dan buy & hold. Buy & sell biasa dikenal dengan istilah seorang trader atau pedagang sedangkan buy & hold dikenal dengan istilah sebagai seorang investor. Untuk menjadi trader tentu tidak mudah karena perlu ilmu investasi yang paling tinggi. Statistik mengatakan bahwa 95% trader saham itu merugi karena mereka tidak memiliki ilmu yang cukup untuk menjadi seorang trader.

Dengan munculnya reksadana maka seseorang lebih diarahkan menjadi seorang investor dimana proses trading diserahkan kepada perusahaan manager investasi. Prinsipnya adalah investasikan uang anda secara rutin setiap bulan selama waktu tertentu untuk mencapatkan hasil investasi yang kita inginkan.

Nah problem mulai muncul di sini dimana return investasi kita setiap tahun semakin mengecil sehingga hasil investasi juga otomatis mengecil. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah mencari jalan tengah antara trader dengan investor yaitu dengan memanfaatkan mekanisme buy & switch.

Switch atau switching adalah sebuah mekanisme dimana sebagai seorang investor mengganti portofolio dari reksadana saham ke reksadana pasar uang atau sebaliknya. Dulu ini sulit dilakukan sebagai seorang investor karena ribet harus urus banyak dokumen dan musti datang ke bank sebagai agen penjual reksadana. Sekarang dengan kemajuan teknologi, banyak reksadana yang dijual secara online dimana proses switching juga dapat dilakukan secara online kapan pun dan dimana pun anda berada. Contohnya anda bisa beli ratusan reksadana secara online melalui www.ipotfund.com.

Strategi investasi reksadana 3Strategi Investasi Reksadana

Contoh strategi investasi reksadana dengan switching itu seperti ini, misalkan dana anda saat ini ada di reksadana saham sebesar 100 juta dan anda bisa buat standar switching misalkan apabila dalam 1 tahun terakhir investasi anda bertumbuh minus atau di bawah 0% maka dana 100 juta anda bisa anda alihkan atau anda switch ke reksadana jenis pasar uang. Dengan memindahkan ke reksadana pasar uang maka uang akan akan lebih aman dan masih bisa bertumbuh sekitar 6-8% per tahun. Kemudian apabila reksadana saham mulai bertumbuh kembali dan misalkan sudah bertumbuh sekitar 10% maka anda bisa pindahkan kembali reksadana pasar uang anda ke jenis reksadana saham.

Artikel Rekomendasi :  Membeli Reksadana Di Bank ?

Dengan konsep buy & switch ini maka harusnya pertumbuhan uang anda di reksadana menjadi semakin optimal dan asumsi awal rata-rata 25% masih bisa diraih bahkan bisa mencapai 30% secara rata-rata untuk kurun investasi selama 10 tahun. Meskipun perlu dicatat juga bahwa beberapa manager investasi akan mengenakan biaya beli dan biaya jual untuk proses swithcing ini sehingga anda perlu pertimbangkan dengan lebih optimal sebelum proses switching dilakukan agar investasi anda benar-benar optimal.

Selamat menjalankan strategi investasi reksadana buy & switch.

Salam Cerdas Finansial,

Andreas Hartono, CFP
Mindset & Financial Motivator

Untuk kebutuhan inhouse training motivasi perencanaan keuangan “Karyawan Produktif itu Cerdas Finansial” silakan dapat menghubungi Andreas-Hartono Academy di 021.4060.9000 atau langsung ke Andreas Hartono di 0811.128.338

Leave a Reply